Home / Umum / 6 Tradisi Masyarakat Jawa Menjelang Bulan Puasa

6 Tradisi Masyarakat Jawa Menjelang Bulan Puasa

tradisi-menjelang-puasa6 Tradisi Masyarakat Jawa Menjelang Bulan Puasa

Kabar Surabaya – 6 Tradisi Masyarakat Jawa Menjelang Bulan Puasa – Beberapa hari lagi umat muslim di seluruh dunia akan menjalankan ibadah puasa. Bulan puasa pada tahun ini akan di laksanakan pada tanggal 27 Mei 2017 (Sabtu). Menjelang bulan puasa ini di beberapa daerah terdapat beberapa tradisi yang biasanya di lakukan oleh umat muslim. Pada umumnya tradisi ini mempunyai arti untuk saling memaafkan sebelum memasuki bulan puasa. Jadi, saat kita memasuki bulan puasa maka hati kita sudah bersih dari segala dosa. Berikut adalah beberapa daerah di pulau Jawa yang melaksanakan tradisi menjelang bulan puasa.

  1. Megengan

Tradisi Megengan berasal dari kata Megeng yang artinya Nahan. Megengan ini mengingatkan kita bahwa bulan suci Ramadhan sudah semakin dekat.  Tradisi Megengan ini berawal dari  Sunan Kalijaga yang saat itu mengajarkan para warga untuk membuat sajian kue yang terbuat dari santan, beras ketan putih, garam dan gula. Setelah kue tersebut jadi, Sunan Kalijaga memerintah warga untuk berkumpul dan duduk bersama. Beliau kemudian menjelaskan arti dari kue tersebut.  “Kue ini adalah afwum, yang mempynyai arti maaf” terang Sunan Kalijaga. Dengan sarana kue afwum ini kemudian masyarakat bisa saling maaf-memaafkan. Cara nya dengan saling mengirimkan kue ini ke tetangga dan sanak saudara. Saat ini masyarakat menyebut kue afwum dengan sebutan kue apem.

Selain membuat dan mengirimkan kue apem, Megengan juga di lakukan dengan mengunjungi makam, untuk melakukan nyekar, guna mendiakan sanak saudara yang telah meninggal dunia.

Baca : E-KTP Akhiri Masa Perekaman Pada 30 September

2. Padusan

Tradisi padusan ini berasal dari kata Adus yang artinya tentu saja mandi. Dalam arti harfiahnya, padusan adalah tradisi yang ada di  masyarakat yang gunanya untuk membersihkan diri. Caranya dengan melakukan mandi besar, agar bisa mensucikan jiwa dan batin untuk menyambut tibanya bulan suci Ramadhan.

Padusan ini biasanya di lakukan di daerah yang mempunyai tempat untuk mandi secara bersama-sama. Lokasi padusan ini bisa di sungai, telaga, ataupun tempat khusus berupa pemandian umum. Namun saat ini padusan juga bisa di lakukan di tempat tinggal masing-masing. Padusan di lakukan dengan cara mandi danmembersihkan badan, sehingga terbebas dari hadast kecil dan hadast besar. Namun perlu di garis bawahi, bahwasannya hal ini adalah ritual atau tradisi daerah saja, jadi tidaklah menjadi suatu keharusan untuk menjalankannya.

3. Dugderan

Tradisi Dugderan ini adalah tradisi khas dari Kota Semarang Jawa Tengah. Dugderan adalah tradisi yang di lakukan sejak 1881. Saat itu RMT Aryo Purbaningrat pertama kalinya menabuh bedug dan membunyikan meriam di Masjid Agung Semarang. Hal ini untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang datangnya awal bulan Ramadan. Kejadian iini akhirnya dijadikan tradisi menjelang datangnya Bulan Ramadan.

Saat ini Tradisi Dugderan telah menjadi perayaan besar yang di lakukan dengan cara pawai. Pawai ini mengarak simbol binatang yang di namakan Warak Ngendok, yang mempunyai badan seperti kuda dan kepala menyerupai naga. Perayaan Dugderan ini beralngsung selama seminggu menjelang bulan puasa tiba dan menjadi acara pariwisata bagi Kota semarang.

Baca : Meski Bukan Masuk Kewenangannya, Risma Angkat 1.000 Ton Lumpur

4. Perlon Unggahan

Tradisi Perlon Unggahan ini merupakan tradisi yang berasal dari Banyumas. Perayaan ini merupakan acara syukuran secara besar-besaran yang di lakukan masyarakat pada seminggu di mulai dengan  sebelum memasuki bulan Ramadhan. Tradisi Perlon Unggahan ini akan di mulai dengan  melakukan ziarah ke makam bonokeling dengan berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki. Yang unik, ziarah ini dilakukan oleh para wanita. Sedangkan para lelaki melakukan proses memasak gulai kambing dan makanan lainnya. Setelag proses ziarah selesai, maka dilakukanlah kegiatan makan bersama ini.

5. Mungguhan

Tradisi Mungguhan ini berasal dari kata “munggah” yang artinya naik. Maknanya adalah pada saat memasuki bulan Ramadhan, kita naik ke bulan yang suci derajatnya. Diharapkan masyarakat bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi pada saattibanya bulan Ramadhan.

Bentuk dari tradisi Munggahan ini biasanya berupa makan bersama-sama bersama keluarga, kerabat, sanak saudara dan tetangga di sekitar lingkungan rumah.  Ada pula beberapa orang yang melakukan ziarah ke makam para wali, orang tua, atau ulama di daerah sekitar. Pada saat ini biasanya masyarakat yang sedang merantau, akan kembali ke tempat asalnya (pulang kampung) untuk merayakan Tradisi Munggahan ini. (Yanuar Yudha)

About Kabar Surabaya

Check Also

Ekspedisi-Mahanugra-I-2018

Calon Guru Besar ITS Pimpin Ekspedisi Mahanugra I/2018

Calon Guru Besar ITS Pimpin Ekspedisi Mahanugra I/2018 Kabar Surabaya – Sabtu pagi 27 Januari …