Home / Kabar Surabaya / Kampung Lontong, Denyut Nadi Warga Banyu Urip Lor

Kampung Lontong, Denyut Nadi Warga Banyu Urip Lor

kampung-lontong-surabayaKampung Lontong, Denyut Nadi Warga Banyu Urip Lor

Kabar SurabayaKampung Lontong, Denyut Nadi Warga Banyu Urip Lor – Berkunjung ke Surabaya menjadi kurang lengkap jika Anda belum melakukan blusukan ke kampung-kampung atau gang kecilnya. Kota berlambang Suro dan Boyo ini dikenal sebagai kota bisnis dan wisata kulinernya. Di dalamnya menyimpan berbagai cerita dan sejarah yang wajib untuk didatangi. Kota Pahlawan ini memiliki berbagai kampung tematik yang menarik. Salah satunya yaitu Kampung Lontong.

Kampung Lontong berada di Jalan Banyu Urip Lor gang 10 Surabaya. Mengapa dinamakan Kampung Lontong? karena hampir 100 orang warga yang tinggal di kampung itu memiliki usaha sebagai pedagang lontong. Sebutan kampung lontong muncul sekitar tahun 1980-an. Sebelumnya hanya beberapa orang warga kampung saja yang aktif membuat lontong. Namun perlahan, semakin banyak bermunculan rumah-rumah produksi lontong yang rata-rata melibatkan ibu rumah tangga. Kampung lontong ini mulai terkenal pada tahun 2005 melalui media sosial dan dengan bantuan LSM.

Siapa yang tak kenal dengan lontong? Tentunya semua orang Indonesia tahu makanan tradisional bernama lontong ini. Makanan berbahan dasar beras, bentuknya bulat terbungkus daun pisang dan mudah dimakan. Sering kali, lontong digunakan sebagai makanan berat pengganti nasi. Lontong ini biasanya disuguhkan untuk melengkapi berbagai macam kuliner. Di Kota Surabaya, lontong memang jadi bagian utama berbagai kuliner tradisional. Seperti rujak cingur, lontong balap, sate, gule, gado-gado hingga bakso. Jadi tak heran, bila bisnis lontong cukup menjanjikan di Kota Pahlawan.

Baca : Tradisi Kupatan Sukolilo, Kupat Gratis Khas Kenjeran

Dalam sehari, rata-rata warga kampung bisa membuat kurang lebih 400 – 800 lontong. Untuk memproduksi lontong sejumlah itu membutuhkan sekitar dua karung beras dan 500 helai daun pisang serta 3 – 4 tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram. Beras yang digunakan untuk pembuatan lontong adalah beras Piring yang dicampur dengan beras Bulog. Untuk perbandingannya biasanya 2 : 1 yaitu 2 untuk beras Bulog, 1 untuk Beras Piring. Warga kampung Banyu Urip ini memilih daun pisang klutuk untuk digunakan sebagai pembungkus lontong. Pembuat lontong di kampung ini tidak mau jika memakai daun pisang lainnya. Karena kalau tidak memakai daun pisang klutuk, hasil lontongnya tidak bagus. Warnanya tidak hijau malah kemereh-merahan. Bau dan rasanya pun kadang terasa pahit.

Warga kampung lontong ini sudah sejak lama memutuskan untuk tidak menambahkan bahan pengawet. Lontong yang diproduksi bisa bertahan hingga 2 hari. Soal kebersihan pembeli tidak perlu khawatir karena lontong di tempat ini diproduksi dengan memperhatikan kebersihan dan standar kesehatan.

Sejumlah keranjang yang berisi penuh dengan lontong tertata rapi di depan rumah warga. Asap tipis hangat berbaur dengan aroma harum daun pisang pembungkus lontong. Menjelang subuh, becak sudah terlihat keluar masuk dari gang di kampung banyu urip untuk mengangkut ratusan keranjang lontong dan membawanya ke sejumlah pasar di Surabaya.

Baca : Bank Sampah Bintang Mangrove Layani Pembayaran Listrik Dengan Sampah

Produksi lontong buatan warga kampung Banyu Urip ini didistribusikan ke pasar-pasar yang ada di kota Surabaya dan sekitarnya. Mulai dari Pasar Jarak, Simo, Tembok, Keputran, dan masih banyak lagi. Selain menjadi pemasok di berbagai pasar wilayah Surabaya, lontong buatan mereka juga sampai ke Balongpanggang Gresik dan Pasar Larangan Sidoarjo. Bahkan ada yang sampai tembus hingga pasar Bojonegoro, Malang dan Jember. Untuk menghindari adanya persaingan yang tidak sehat diantara para pemasok lontong, warga kampung membuat kesepakatan. Setiap pasar hanya boleh dipasok oleh empat sampai lima produsen lontong saja.

Kesepakantan antar produsen lontong ini masih terjaga hingga sekarang, Hal inilah yang menjaga agar harga lontong yang mereka produksi tetap terjaga dan tidak jatuh. Semakin hari permintaan lontong dari kampung Lontong ini terus meningkat pesat. Sehingga hampir setiap tahun makin banyak warga yang terjun untuk menekuni bisnis lontong ini.

Dalam upaya memberdayakan masyarakat di kampung lontong Banyu Urip, Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan akses supply gas dari PGN. Semenjak jaringan gas bumi itu masuk ke kampung, omset usaha pembuatan lontong terus meningkat. Saat ini penghasilan mereka rata-rata dalam sehari mencapai Rp 90 juta per bulan. (Rizki Rahmadianti)

About Kabar Surabaya

Check Also

suroboyo-bus-bayar-pakai-sampah

Risma Mulai Melatih Warga Surabaya Untuk Beralih Ke Transportasi Umum

Risma Mulai Melatih Warga Surabaya Untuk Beralih Ke Transportasi Umum Kabar Surabaya – Saat ini …