Home / Sejarah / Kampung Ndresmo, Kawasan Pesantren Tua Surabaya

Kampung Ndresmo, Kawasan Pesantren Tua Surabaya

kampung-ndresmo-surabayaKampung Ndresmo, Kawasan Pesantren Tua Surabaya

Kabar SurabayaKampung Ndresmo, Kawasan Pesantren Tua Surabaya – Jika berbicara mengenai masalah perkembangan islam di negara Indonesia, tentunya tidak mungkin dapat lepas dari mendiskusikan tentang kehidupan di pondok pesantren. Sebab peran pondok pesantren, di samping merupakan benteng pertahanan ajaran Islam, juga merupakan lembaga untuk menggali serta mengembangkan ajaran islam secara lebih mendalam dan mendasar. Peranan ini terbukti sejak zaman pra penjajahan sampai saat ini.

Kampung Santri Ndresmo merupakan perkampungan yang berada di perbatasan antara kawasan Kecamatan Wonokromo dan kawasan Kecamatan Wonocolo, tepatnya berada di Jalan Sidosermo Surabaya, Jawa Timur. Hampir seluruh daerah bahkan negara-negara lain terlebih timur tengah banyak yang mengenal desa tersebut. Ya karena kebanyakan  penduduknya punya pesantren. Dan lagi hampir semua penduduk yang lahir di kawasan tersebut berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW dari berbagai arah keturunan yang berbeda. Ada dua jalur keturunan yang menghubungkan kepada nasab penduduk Ndresmo ke-baginda nabi Muhammad. Yaitu dari keturunan  Sayyid Adhmat Khon dan Sayyid Abu Bakar Basyaiban (bisa jadi ada yang lain dari kedua keturunan itu).

Baca : Benteng Belanda Saksi Bisu Pertarungan Arek-Arek Suroboyo Mengusir Sekutu

Asal-usul nama Ndresmo bukan sekedar kebetulan saja, namun terdapat sejarahnya yaitu pada suatu malam ketika Sayyid Ali Akbar hendak melaksanakan sholat tahajud di masjidnya, beliau melihat ada lima santrinya yang sedang “nderes” (belajar mengaji) di dalam masjid. Saat itu juga timbul ide beliau untuk menamakan desa baru ini dengan sebutan “Ndresmo”. Asal kata dari kalimat “nderes santri limo” yang akhirnya populer dengan sebutan “Sidosermo” hingga sekarang.

Sudah sejak jaman dahulu atau tepatnya sejak masa jaman penjajahan, desa ini sering didatangi oleh banyak orang. Jadi para tamu-tamu yang memasuki kawasan desa Ndresmo dulunya mempunyai maksud untuk belajar mengaji atau mencari perlindungan dari kejaran para tentara kolonial belanda. Ada banyak peninggalan kuno yang tetap utuh di desa Ndresmo. Yaitu masih kokohnya bekas kediaman Sayyid Ali Akbar, lalu bagunan sumur yang dulu biasa dipakai Sayyid Ali Akbar untuk memberikan minuman bagi para pejuang.

Kini Ndresmo masihlah menjadi desa yg sangat religius sekali. Semakin banyak kegiatan religius di masa modern ini. Tidak seperti yang dihadapi oleh sesepuh Ndresmo di masa lalu, yaitu berupa para penjajahan dan peristiwa keganasan PKI yang penuh dengan kekerasan. Maka sekarang ini yang dihadapi adalah sesuatu yg complicated. Karena para pendatang baru semakin banyak. Ditambah perkembangan teknologi yang canggih dan kemajuan zaman yang telah banyak berubah. Tetapi itu semua tidak mengubah kereligiusan pondok pesantren Ndresmo itu.

Baca : Masjid Rahmat Surabaya , Karya Agung Sunan Ampel

Keseharian di kampung santri tampak dari pintu gerbang kayu pondok pesantren kawasan Sidosermo. Belasan remaja menyeruak dengan peci putih dan membawa kitab di dada mereka masing-masing. Pelajaran mengaji pagi itu berakhir saat matahari sudah tak lagi hangat. Kekhusyukan mengaji berganti menjadi kesibukan mencuci dan membersihkan kamar di pondok pesantren.

Kampung Ndresmo atau yang populer dengan nama Sidosermo, saat ini masih dikenal sebagai kampung pesantren sejak didirikan oleh Sayyid Ali Akbar, tokoh agama asal Cirebon, sekitar 400 tahun lalu. Kini, tak kurang dari 20 pondok pesantren kecil dan besar bertebaran di perkampungan padat penduduk ini. Satu diantaranya adalah Pondok Pesantren At-Tauhid. Di sini, santri tidak saja belajar mengaji, namun juga punya kesempatan mendapatkan pendidikan umum di sekolah yang disediakan oleh pengelola pondok.

Saluran informasi yang masuk ke dalam pondok pesantren di kawasan Sidosermo juga beragam. Santri tidak saja mahir untuk membaca kitab, namun juga senang untuk membaca koran maupun komik di waktu luang. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia tidak saja berkutat kepada ajaran agama secara tradisional saja. Pemahaman akan ilmu pengetahuan umum dan bahasa asing juga menjadi bekal para santri untuk berdakwah nanti. Sehingga perkembangan kampung santri semakin menuju ke arah modernisasi. (Ita Pebri)

About Kabar Surabaya

Check Also

museum-tugu-pahlawan-surabaya

Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Saksi Bisu Perjuangan Arek-Arek Suroboyo

Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Saksi Bisu Perjuangan Arek-Arek Suroboyo Kabar Surabaya – Museum Tugu Pahlawan …