Home / Sejarah / Menelusuri jejak Kampung Eropa Di Surabaya

Menelusuri jejak Kampung Eropa Di Surabaya

kampung-eropa-di-surabayaMenelusuri jejak Kampung Eropa Di Surabaya

Kabar SurabayaMenelusuri jejak Kampung Eropa Di Surabaya – Jika kita berbicara mengenai kampung-kampung di kota Surabaya, tidak akan bisa lepas dari yang namanya sejarah. Sejak Sri Susuhunan Pakubuwana II yaitu raja terakhir Kasunanan Kartasura (kelanjutan dari Kesultanan Mataram) menyerahkan penguasaan Kota Surabaya kepada VOC pada tahun 1743, Surabaya berada resmi di bawah pemerintahan  kolonial Belanda. Di zaman kolonial tersebut, Belanda membagi-bagi masyarakat dalam kampung-kampung berdasarkan etnis. Sampai akhirnya kita mengenal ada Kampung Arab, Kampung Pecinan, Kampung Bumiputra (orang-orang Jawa / Melayu), serta Kampung Eropa di Surabaya.

Kampung-kampung etnis di Kota Surabaya ini mulai bermunculan karena adanya peraturan Wijkenstensel yang berisi setiap etnis harus menempati kampung etnisnya masing-masing. Dan juga, peraturan Passenstensel yang menyatakan bahwa seseorang harus menunjukkan surat jalan jika hendak keluar dari lingkungannya. Kedua peraturan yang dibuat ini menyebabkan akses keluar-masuk di kawasan Kampung Pecinan, Arab, atau pribumi menjadi sulit.

Pembagian kampung berdasarkan etnis ini juga terjadi bukan karena mereka tersebut tidak mau berbaur atau mengeksklusifkan diri. Namun, ini merupakan upaya Belanda untuk mengontrol kriminalitas dan populasi di Surabaya serta cara Belanda melakukan pengawasan. Jadi jika ada kerusuhan atau pemberontakan, intel Belanda akan mudah untuk mencari tersangkanya. Cirinya bagaimana? Apakah itu pakai gamis, cheong-sam, atau sarung, mereka pasti langsung tahu harus mencari orang itu ke mana.

Baca : Museum Bank Indonesia Surabaya, Saksi Sejarah Perbankan Indonesia

Seiring berjalannya waktu, kampung-kampung etnis ini mengalami banyak perkembangan, baik itu positif ataupun negatif. Ada kampung etnis yang mengalami perluasan, namun ada pula yang hanya meninggalkan bangunan fisiknya saja tanpa ada manusia yang tersisa.

Seperti halnya Kampung Eropa di Surabaya, Kita sudah mungkin lagi mendapati satu kampung yang lengkap dengan masyarakat keturunan Eropa di dalamnya. Yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tua dengan gaya Eropa di beberapa kawasan di Surabaya, seperti kawasan Darmo saat ini.

Awal mulanya pada tahun 1870-an, di Jalan Rajawali dan Jalan Veteran didirikan banyak perkantoran dan pertokoan dengan gaya arsitektur Belanda. Pada tahun 1890-an, arsitektur Eropa berada di selatan Surabaya, yakni sepanjang Ketabang hingga Darmo. Ketika perdagangan di kawasan Kampung Eropa tumbuh subur sekitar tahun 1900-an, kawasan ini mengalami perluasan hingga ke Kaliasin, Gemblongan, dan Tunjungan.

Orang-orang Eropa di Kota Surabaya seolah lenyap ditelan bumi akibat adanya “masa bersiap” pasca kemerdekaan, atau disebut juga masa nasionalisasi. Pada waktu itu, semua orang bersiap akan kedatangan bangsa Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Sementara, orang-orang Belanda yang keberadaannya masih di Indonesia masih bisa tinggal di kawasan pemukiman mereka (di Darmo), namun dengan syarat tidak boleh bepergian ke luar kawasan.

Baca : Sepenggal Cerita, Sejarah Gerbong Maut Di Surabaya

Pada masa bersiap tersebut, para pejuang mengambil secara sepihak rumah-rumah yang dihuni oleh orang Belanda. Karena sudah kalah, orang-orang Belanda itu ingin merebut kembali rumah-rumah mereka, tapi mengalami kesulitan. Opsinya hanya ada dua yaitu tetap tinggal di kawasan Indonesia dan memilih menjadi warga Indonesia, atau pulang ke Belanda. Mereka merasa  dipaksa untuk segera pulang ke negaranya sendiri. Dan kenyataannya, banyak yang akhirnya membuat pilihan untuk pulang kembali ke Belanda. Jadi fisik bangunan rumah-rumah Eropa masih ada, tetapi penghuninya yang sudah tidak ada.

Yang istimewa dari bangunan peninggalan Belanda ini adalah kekokohannya. Meskipun di bangun sejak jaman 1800-an, masih banyak bangunan belanda yang tegak berdiri. Bahkan banyak di antaranya yang saat ini di gunakan sebagai kantor-kantor pemerintahan. Seperti Kantor Gubenur jawa Timur, Balai Kota Surabaya, Balai Pemuda Surabaya dan masih banyak lagi lainnya.

Yang jelas, Kampung Eropa di Surabaya sekarang ini hanya tersisa bangunan-bangunannya saja. Kampung-kampung etnis yang hingga kini masih merupakan peta dinamika kota Surabaya adalah Kampung Arab, Kampung Pecinan, dan juga Kampung Bumiputra atau pribumi. Kampung-kampung ini tumbuh menjadi apa yang kini kita kenal sebagai kampung tematik. Namun inilah yang memperkaya keragaman budaya yang ada di Kota Surabaya. (Rizki rahmadianti)

About Kabar Surabaya

Check Also

museum-tugu-pahlawan-surabaya

Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Saksi Bisu Perjuangan Arek-Arek Suroboyo

Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Saksi Bisu Perjuangan Arek-Arek Suroboyo Kabar Surabaya – Museum Tugu Pahlawan …