Home / Sejarah / Sepenggal Cerita, Sejarah Gerbong Maut Di Surabaya

Sepenggal Cerita, Sejarah Gerbong Maut Di Surabaya

sejarah-masjid-rahmat-surabayaSepenggal Cerita, Sejarah Gerbong Maut Di Surabaya

Kabar SurabayaSepenggal Cerita, Sejarah Gerbong Maut Di Surabaya -Sebagai Kota Pahlawan, tentunya Surabaya mempunyai banyak sekali peninggalan-peninggalan lawas yang sangat kental sekali dengan sejarah. Biasanya peninggalan ini disimpan rapi dan di abadikan di dalam museum. Sebut saja Museum Tugu Pahlawan atau Monumen Kapal Selam (Monkasel) yang mempunyai sejarah erat dengan cerita perjuangan Arek-Arek Suroboyo dalam mengusir penjajah. Namun tahukah kalian akan kisah dari gerbong kereta maut di Kota Surabaya…? Peristiwa cerita kelam mengenai gerbong maut di Kota Surabaya ini adalah sedikit penggalan dari kejamnya tentara penjajah Belanda dalam melakukan Agresi Militer-nya secara curang yang pertama.

Kisah mengerikan dari gerbong maut di Surabaya berawal dari kota Bondowoso Jawa Timur. Sejak terjadinya peristiwa Agresi Militer Belanda pertama, pasukan Belanda melakukan aksi yang di namakan “polisionil”. Aksi tersebut berupa penangkapan besar-besaran terhadap Tentara Republik Indonesia (TRI), Laskar Rakyat, dan pemuda yang berpotensi untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Entah mereka terlibat dalam perjuangan ataupun tidak. Akibat dari penangkapan yang membabi buta ini, penjara berukuran sedang yang berada di kota Bondowoso langsung¬†menjadi sangat penuh dan sesak. Dalam hitungan hari, jumlah tahanan yang ada di kota kecil ini mencapai sekitar 600-an orang. Suatu jumlah yang amat besar pada tahun tersebut.

Baca : Ada Dunia Lain di Museum Santet Surabaya

Untuk mengurangi kepadatan jumlah tahanan, maka pihak Belanda berinisiatif untuk memindahkan sebagian tahanan ke Kota Surabaya. Untuk memindahkan para tahanan ini di laksanakan dalam 3 gelombang. Gelombang pertama dan gelombang kedua sudah di berangkatkan terlebih dahulu. Di gelombang ketiga inilah peristiwa gerbong maut terjadi. Pada Sabtu Subuh, pada pukul 04.00wib sekitar 100 orang di kumpulkan di depan penjara dan di bawa ke stasiun Kereta Api Bondowoso. Di stasiun tersebut terdapat 3 gerbong kereta api yang telah di persiapkan oleh pihak Belanda untuk mengangkut para tahanan ini. Gerbong ini bukanlah gerbong penumpang, melainkan gerbong barang yang sangat tertutup dan minim ventilasi. Tiga gerbong ini bernama GR5769, GR4416 dan GR10152. Sebanyak 32 orang masuk ke gerbong pertama, 30 orang masuk ke gerbong kedua dan sisanya berebut masuk ke gerbong ketiga, karena gerbong ini masih baru dan ukurannya lebih panjang.

Pukul 07.00 Wib, saat semua tahan sudah naik, gerbong mulai di tutup. Seketika itu suasana gerbong menjadi gelap gulita dan hawa gerah dan panas mulai datang. Baru pada pukul 07.30 wib kereta di berangkatkan menuju kota Surabaya. Selama perjalanan ke kota Jember banyak tahanan yang menggedor-gedor kereta dan berteriak karena kepanasan dan kehausan. Namun sepertinya tentara Belanda sudah tidak punya telinga untuk mendengar rintihan mereka.

Ketika gerbong maut ini tiba di kota Jember, kereta harus menunggu selama 2 jam lamanya untuk menanti kereta dari kota banyuwangi lewat. Akhirnya pada pukul 10.30 wib kereta yang membawa gerbong maut ini berangkat. Cuaca yang terik, tentu saja membuat suasana di dalam gerbong yang terbuat dari plat baja dan tanpa ventilasi ini. Bagaikan di neraka. Pada saat itu sudah banyak satu-persatu para tahanan yang tumbang berguguran karena dehidrasi akut. Bahkan beberapa mencoba bertahan hidup dengan meminum air kencing dari tahanan lainnya. Sungguh suatu peristiwa yang sangat di luar batas kewajaran.

Baca : Benteng Belanda Saksi Bisu Pertarungan Arek-Arek Suroboyo Mengusir Sekutu

Ketika gerbong maut ini tiba di stasiun kereta api Jatiroto, anugrah Tuhan Yang Maha Esa turun. Hujan deras mengguyur kawasan jatiroto dengan deras, bahkan ini adalah hujan terderas yang pernah turun di kota ini. Para tahanan yang tadinya sudah lemas, seketika itu mendapatkan sedikit tenaga dengan meminum tetesan dan rembesan air hujan yang mengalir lewat lubang-lubang kecil. Bahkan di salah satu gerbong para tahanan berhasil mencungkil kayu kereta yang belum lapuk dan membuat lubang kecil. Dari lubang itulah mereka bergantian untuk menghirup udara luar. Namun hal ini tidak berlaku di gerbong ketiga yang masih baru. Pada gerbong ini para tahanan tidak sedikitpun mendapatkan rembesan air dan aliran udara segar.

Ketika memasuki Kota Surabaya, gedoran dinding kereta dan teriakan tahanan masih terdengar. Namun hanya pada gerbong satu dan gerbong dua. Sedangkan pada gerbong tiga, suasana di dalamnya tetap hening dan tak terdengar gedoran dinding kereta. Baru pada pukul 20.00 wib kereta yang mengangkut tiga gerbong maut ini tiba di stasiun Wonokromo Surabaya. Jadi para tahanan, menghabiskan waktu selama 16 jam di dalam gerbong barang yang pengap. Ketika di lakukan pendataan, pada gerbong 1 semua penumpang selamat meskipun dalam keadaan yang lemas dan sebagian sakit. Pada gerbong 2 hanya 16 orang yang selamat dan pada gerbong 3 semua penumpang ,sejumlah 38 orang di temukan tewas. Kemudian tahanan yang sehat di haruskan mengangkat satu-persatu jenazah tahanan laiannya. Proses pengangkatan jenazah ini harus di lakukan dengan perlahan, sebabnya daging jenazah tahanan mudah terkoyak karena kepanasan di dalam gerbong.

Baca : Museum Bank Indonesia Surabaya, Saksi Sejarah Perbankan Indonesia

Lalu tahanan yang masih hidup langsung di giring ke tahanan militer di jalan Bubutan Kota Surabaya. Mereka di tahan di sini hampir selama 2 tahun dan baru di bebaskan menjelang adanya konferensi meja bundar pada tanggal 22 November 1949.

Untuk memperingati peristiwa gerbong maut ini ketiga gerbong ini di simpan secara terpisah di 3 kota. Yaitu di kota Bondowoso yang di abadikan sebagai monumen. Di kota Malang gerbong di simpan di Museum Brawijaya.

Lantas di mana salah satu gerbong lainnya berada…? di Kota Surabaya!! tepatnya di area Gedung Juang jl. Mayjend Soengkono. Yap di kota pahlawan inilah gerbong terakhir tersimpan. Namun sayangnya kondisinya sangat mengenaskan. Bahkan di beberapa bagiannya saat ini sudah di ganti dengan beton karena bagian aslinya sudah keropos di makan usia. Hal ini dikarenakan gerbong ini di simpan di lokasi terbuka yang tidak terawat. Sekaliling gerbong ini tumbuh semak belukar yang sangat lebat. Di dekat area gerbong maut di Surabaya ini terdapat pula sebuah rumah yang berisikan barang-barang peninggalan dari Jendral Besar Soedirman. Sangat di sayangkan kondisinya juga kurang terawat. Saat ini kondisi dari area penyimpanan gerbong maut ini sangatlah suram dan menakutkan. Bahkan para penjaga tidak akan berani mengantarkan pengunjung bila waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 wib. (Yanuar Yudha)

About Kabar Surabaya

Check Also

museum-tugu-pahlawan-surabaya

Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Saksi Bisu Perjuangan Arek-Arek Suroboyo

Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Saksi Bisu Perjuangan Arek-Arek Suroboyo Kabar Surabaya – Museum Tugu Pahlawan …