Home / Kabar Surabaya / Subcyclist Surabaya, Klub Gowes Kekinian Kota Surabaya

Subcyclist Surabaya, Klub Gowes Kekinian Kota Surabaya

Subcyclist-SurabayaSubcyclist Surabaya, Klub Gowes Kekinian Kota Surabaya

Kabar Surabaya Subcyclist Surabaya, Klub Gowes Kekinian Kota Surabaya – Di bawah  kepemimpinan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, Kota Surabaya tumbuh dan berkembang menjadi kota yang sangat sibuk. Berbagai pembangunan fisik dan infrastruktur tampak tumbuh di berbagai kawasan kota Surabaya. Gedung-gedung pencakar langit sudah mulai tampak menjulang. Namun semua perkembangan tersebut, ternyata tidak pernah melunturkan sifat asli dari Arek Suroboyo. Ya…sifat asli dari Arek Suroboyo yang terkenal selalu bersemangat, ramah kepada semua orang dan senang beraktifitas, masih terasa hingga saat ini. Oleh karena itu tidak salah jika akhirnya Walikota Surabaya membangunkan banyak lokasi aktifitas fisik di berbagai tempat, seperti di taman-taman kota. Hal inilah yang akhirnya mulai menumbuhkan banyak komunitas-komunitas di Kota Pahlawan ini. Salah satu komunitas yang kita bahas kali ini adalah Surabaya Cycling Institute.

Subcyclist adalah komunitas yang berbasis pada olahraga bersepeda atau yang saat ini lebih di kenal dengan kata “Gowes”. Subcyclist ini berasal dari kata Surabaya Cycling Institute. Komunitas gowes ini terbentuk dari 3 orang Bonek (Fans Persebaya Surabaya) yang memiliki hoby bersepeda. Subcyclist ini memulai kampanye-nya dengan mengajak warga Kota Surabaya untuk kembali lagi mengayuh sepedanya. Jujur saja, selama 2 tahun belakangan ini, aktifitas gowes sepertinya sudah tidak laku lagi di masyarakat. Aktifitas ini kalah dengan olahraga lainnya seperti Futsal dan Lari. Padahal hal ini bertolak belakang dengan apa yang di lakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Di beberapa ruas jalan, kita sering menjumpai adanya jalur untuk bersepeda. Jalur ini biasanya berwarna mencolok, seperti Orange atau Kuning.

Baca : Kampung Bubutan, Kembaran Kota Amsterdam Dari Timur

Untuk memulai gerakannya ini, para pendiri Surabaya Cycling Institute mulai mengajak masyarakat bersepeda tanpa memandang usia, gender dan merk sepeda yang di miliki. Hanya berbekal satu syarat, yakni #wanimancal. Bahkan untuk mengajak masyarakat ini, para pendiri dari Surabaya Cycling Institute ini sampai harus membawa banyak sepeda cadangan untuk di pinjamkan. Akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil. Perlahan demi perlahan komunitas #Gowes yang mereka bangun mulai mendapatkan perhatian dari warga Kota Surabaya. Sejak didirikan pada bulan Juni 2015, saat ini Surabaya Cycling Institute telah memiliki anggota tetap berjumlah puluhan orang.

Ciri khas dari komunitas Surabaya Cycling Institute ini adalah menggabungkan antara olahraga gowes dengan Jelajah Heritage Kota Surabaya. Selain berolahraga, para komunitas ini juga menyusuri rute-rute Heritage yang ada di Kota Surabaya. Bukan hanya itu, bahkan sesekali mereka juga ramai-ramai menonton acara kesenian seperti Ludruk dan wayang orang yang seringkali di tampilkan di gedung Balai Pemuda.

Beberapa rute yang sudah pernah dilaksanakan oleh komunitas subcyclist ini antara lain, Rute Perak, Rute Surabaya Barat dan Rute Menyapa Senja di Timur Kota (Kenjeran). Setiap rute bahkan sampai harus mengulang dua hingga tiga kali sesuai dengan permintaan dari anggota yang ingin bergabung. Terkadang komunitas dari Subcyclist ini juga mengadakan acara gowes di malam hari dengan tema Night Ride. Lalu pada endingnya dilanjutkan dengan acara kuliner-an di malam hari.

Baca : Ada Dunia Lain di Museum Santet Surabaya

Kabar Surabaya sempat bertemu dengan Devina Elvaretta Puspamurti, yang merupakan salah satu anggota dari komunitas Subcyclist ini. Devina menuturkan, bahwa alasan pertama dia mau bergabung dengan komunitas mancal ini adalah untuk berolahraga agar badannya bisa tetap fit dan bugar. Namun di tengah perjalanannya dia mengerti bahwa tujuan akhir bukanlah yang dia cari, justru prosesnya yang dia nikmati saat ini. Karena dengan bersepeda dia mengaku belajar akan banyak hal. Mulai dari teknik bersepeda yang aman, Tempat-tempat bersejarah di Kota Surabaya dan bisa membantu mengurangi kemacetan serta polusi yang ada di Kota Surabaya.

Devina yang mulai bergabung dengan komunitas Subcyclist pada bulan Agustus 2016 ini mengaku awalnya sangat canggung. Namun karena rekan-rekan lain di komunitas ini sangat kompak dan ramah, perlahan-lahan rasa canggung itu-pun sirna. Rute heritage yang pernah dia jalani pada awal bergabung adalah Rute Heritage yang start dan finish-nya berada di Taman Prestasi Ketabang Kali.  Rute ini di mulai dari PG.Rajawali Jl. Undaan – Stasiun Semut – Pabrik Essence tjap Lontjeng – Pasar Bong – Klenteng Sukhaloka – Jembatan Merah – Polrestabes Surabaya – Bank Mandiri Tugu Pahlawan – Siola dan Taman Gantung – finish di Taman Prestasi. Lokasi Taman Prestasi ini di pilih karena para peserta membawa kendaraan bermotor yang diparkir di Sentra Makanan Ketabang Kali Surabaya. Pada masa ini peserta masih mendapatkan fasilitas pinjaman sepeda dari panitia. “Perjalanan saya dengan komunitas Subcyclist saat itu berlangsung pada malam hari (Night Ride)” jelas Devina.

Karena tema yang di lakukan oleh komunitas Subcyclist ini adalah perjalanan heritage, maka di perlukan seseorang yang menjadi guide. Guide ini di perlukan untuk menjelaskan tempat-tempat yang mereka singgahi serta bercerita sedikit mengenai gedung bersejarah yang ada. Yang kebagian sampur untuk menjadi guide ini biasanya Cak Salas Suroboyo, yang merupakan salah satu dedengkot Subcyclist dan juga pemerhati sejarah Kota Surabaya.

Baca : Misteri Bunker Belanda di Surabaya

Selain acara gowes, rupanya komunitas Subcyclist ini juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal ini terbukti dengan akan di laksanakannya acara bakti Sosial dengan tema “Bermain Bersepeda Berbahagia Bersama”. Acara sosial ini mengandeng anak Panti Asuhan Bj Habibie yang ada di wilayah Keputih-Surabaya. Acara Bakti Sosial ini mengajak warga Kota Surabaya untuk sedikit menyisihkan amalnya bagi anak panti asuhan ini. Tidak tanggung-tanggung Komunitas Subcyclist ini akan siap mengambil donasi dari masyarakat dengan cara meng-gowes. Acara ini sendiri akan di laksanakan pada hari Minggu tanggal 5 Maret 2017.

Ketika di tanya sudah berapa kilo berat badannya turun, Devina hanya menjawab dengan senyuman saja. “Ada banyak hal yang saya dapat dari sini, mulai pengetahuan tentang sejarah kota, Pertemanan, dan berat badan yang masih awet”, Gimana mau turun, habis gowes, makannya bisa satu piring penuh” katanya terbahak. Rute yang paling menantang bagi Devina selama bergabung dengan komunitas Subcyclist adalah pada saat dia mengikuti rute Mojokerto – Surabaya pada saat event memperingati Hari Pahlawan tahun kemarin. Rasa kesemutan dan pegal-pegal di kaki sempat dia rasakan, namun hal itu tidaklah terasa karena terbayar dengan perjalanan yang seru dengan teman-teman se-komunitasnya.

Bagi yang mau bergabung dengan komunitas Subcyclist ini, bisa memantau aktifitasnya lewat Fanpage Facebook : Suroboyo Cycling Institute dan Instagram @Subcyclist. Langsung aja gabung tanpa syarat dan tanpa seleksi. Asalkan anda masih #wanimancal pasti komunitas Subcyclist dengan senang hati menerima. (Devina Elvaretta Puspamurti / Yanuar Yudha).

Foto by Fanpage facebook :  Suroboyo Cycling Institute

About Kabar Surabaya

Check Also

suroboyo-bus-bayar-pakai-sampah

Risma Mulai Melatih Warga Surabaya Untuk Beralih Ke Transportasi Umum

Risma Mulai Melatih Warga Surabaya Untuk Beralih Ke Transportasi Umum Kabar Surabaya – Saat ini …