Home / Wisata / Wisata Religi Makam Ki Ageng Bungkul

Wisata Religi Makam Ki Ageng Bungkul

makam-ki-ageng-bungkul-surabayaWisata Religi Makam Ki Ageng Bungkul

Kabar SurabayaWisata Religi Makam Ki Ageng Bungkul – Kota Surabaya memang sudah menjadi kota yang besar, tetapi nuansa religius masih ada. Hal ini dapat kita lihat di bangunan makam Mbah Bungkul atau Sunan Bungkul, letaknya ada di pusat Kota Surabaya. Saat berada di surabaya, tidak lengkap rasanya bika belum singgah ke Taman Bungkul Surabaya yang ada di Jalan Raya Darmo. Anda juga bisa sekaligus berziarah ke Makam Ki Ageng Bungkul. Namun, tidak semua orang mengetahui bahwa di Surabaya terdapat makam Sunan Bungkul. Selama ini yang sering diketahui banyak orang hanya sebatas makan Sunan Ampel. Padahal jika ditelusuri ada kaitan sejarahnya antara Sunan Ampel dan Sunan Bungkul.

Siapakah sosok Ki Ageng Bungkul?

Ada catatan yang mengisahkan, bahwa di tempat ini pada 700 tahun silam sebelum kota ini bernama Surabaya, dikenal masyarakat dengan sebutan ‘Pertapaan Mbah Bungkul’. Ada beragam versi cerita tentang siapa sebenarnya tokoh yang dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Bungkul ini. Salah satu versi cerita sejarah yang diyakini masyarakat menyebutkan bahwa Sunan Bungkul adalah nama lain dari Ki Ageng Supo, atau Mpu Supo. Seorang bangsawan dari jaman Kerajaan Majapahit. Dan setelah memeluk Islam lalu beliau berganti nama menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Beliau juga ikut menyebarkan agama Islam di Surabaya.

Baca : Sehat Tak Harus Mahal ala Taman Lansia

Masih ada sejumlah warga yang menilai adanya sisi keramat dan sakral di Makam Ki Ageng Bungkul. Sehingga masih banyak pengunjung yang datang dari luar kota seperti Sidoarjo, Pasuruan, Tulungagung, Kedirim Blitar, dan Malang. Pada saat liburan atau pada saat bulan Ramadhan, tingkat pengunjung bisa melonjak hingga mencapai ribuan orang. Padahal normalnya setiap hari berkisar sekitar 100 orang.

Tidak hanya pengunjung perorangan saja, tatapi juga banyak yang datang berombongan dengan menumpang bus dari berbagai daerah. Pada umunya peziarah membuat jadwal kunjungannya bersamaan dengan ziarah ke makam Sembilan wali yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pengunjung laki-laki maupun perempuan mendatangi Makam Ki Ageng Bungkul ini. Mereka meyakini Mbah Bungkul merupakan sosok kharismatik yang membantu perjuangan Raden Rahmat (Sunan Ampel) menyebarkan agama islam di Jawa Timur.

Bagi masyarakat yang ingin pergi berziarah ke Makam Ki Ageng Bungkul. Rute yang ditempuh apabila dari arah utara tepatnya dari Jalan Panglima Sudirman terus ke arah Jl.Urip Sumoharjo kemudian menuju ke Jl Darmo dan sebelum Taman Bungkul belok kiri dan dapat parkir di sekitar Taman Bungkul. Apabila dari arah Selatan, anda bisa melalui Jl Ahmad Yani, terus menuju ke arah Jl Wonokromo dan sampai di Kawasan Kebun Binatang Surabaya (KBS), langsung terus masuk arah Jl Raya Darmo dan ambil jalur kanan lalu putar balik di depan Taman Bungkul kemudian masuk ambil lajur kiri masuk jalan Juwono kemudian lurus langsung parkir di sekitar Sunan Bungkul.

Baca : Taman Flora Bratang Surabaya, Surga Oksigen Murah Meriah

Untuk menuju lokasi makam, pengunjung harus melewati gapura paduraksa yang lebih kecil. Gapura tersebut menghubungkan bagian tengah dengan bagian dalam. Di situlah Makam Ki ageng Bungkul berada. Makam Ki ageng Bungkul berada dalam sebuah cungkup dimana berjajar beberapa bangunan makam yang badan kubur dan nisannya dibungkus dengan kain berwarna putih.

Ketika tiba di lokasi makam ini, biasanya para peziarah akan melaksanakan sholat di Mushola kecil yang konon dibangun juga oleh Mbah Bungkul bersama Raden Rahmat. Kemudian bisa dilanjutkan dengan berziarah di Makam Ki Ageng Bungkul dan juga makam sejumlah pengikutnya yang berada di satu lokasi yang berdekatan.

Setelah selesai berziarah, pegunjung bisa menikmati satu kejaiban yang hingga kini masih terjaga. Yaitu mencoba meminum air sumur yang di ambil dari sumur buatan Mbah Bungkul dan Raden Rahmat. Versi cerita lain, menyebutkan bahwa ‘sumur tua’ yang berada di antara beringin dan pohon sawo kecik itu dibuat oleh Mbah Bungkul dan Raden Rahmat dalam waktu semalam. Konon, pada saat mereka akan melakukan wudhu untuk sholat tahajud/sholatmalam, Raden Rahmat tidak menjumpai air setetespun. Kemudian, sesaat setelah berdoa, ia lalu bersama Mbah Bungkul menggali tanah. Dalam waktu singkat galian tersebut langsung mengeluarkan air yang sangat bersih dan berhawa sejuk.

Terlepas dari beragamnya cerita tentang sejarah Mbah Bungkul di Surabaya. Hingga kini, apalagi jika menjelang 1 Muharram atau Ramadhan, kawasan Taman Bungkul masih ramai dikunjungi banyak orang dari berbagai penjuru. Selain pengunjung lokal, tidak sedikit pula pelancong mancanegara yang datang ke tempat bersejarah tersebut. (Yanuar Yudha)

About Kabar Surabaya

Check Also

harga-karcis-masuk-kebun-binatang-surabaya

Ajak Si Buah Hati Liburan Ke Kebun Binatang Surabaya

Ajak Si Buah Hati Liburan Ke Kebun Binatang Surabaya Kabar Surabaya – Ajak Si Buah Hati …